"Kalau kau bukan anak raja, dan kau bukan anak seorang ulama besar, maka jadilah penulis" Al - Ghazali.

Benteng Marlbrough dari Catatan Sejarah

Benteng Marlbrough dari Catatan Sejarah
Anggota Blogger Bengkulu (BoBe) saat mendengarkan penjelasan dari tour Guide

East India Company (EIC) adalah kongsi dagang Inggris, tiba di Bengkulu sekitar tahun 1685, sebelumnya Inggris (EIC) singgah di Aceh untuk mendirikan kantor dagang. Namun karena gagal dengan upayanya di Aceh, Inggris kemudian berlabuh di Bengkulu dengan membawa misi yang sama, yaitu mendirikan kantor dagang dengan tujuan mendapatkan pasokan rempah-rempah. Bengkulu pada masa itu merupakan salah satu penghasil cengkeh, walaupun tidak sebanyak dan semelimpah wilayah Indonesia bagian Timur.

Saat tiba di Bengkulu, Inggris (EIC) langsung membuat perjanjian dengan raja-raja di Bengkulu (Traktat York) dan salah satu isi kesepakatannya adalah memperkenankan Inggris untuk membuka kantor dagang sekaligus bangunan Fort York. Jadi Sebelum Benteng Marlborough berdiri sudah ada Fort York yang dibangun lebih dahulu oleh Inggris saat tiba di Bengkulu.

Lokasi pendirian Fort York ini adalah di kawasan tepian aliran Sungai Bengkulu (Bangkahulu), yang saat ini masuk dalam wilayah Kelurahan Pasar Bengkulu, Kecamatan Teluk Segara Kota Bengkulu. Sekitar 28 tahun kemudian, Joseph Callet selaku Komandan Garnizun Inggris yang bertugas di Bengkulu saat itu. Melapor ke Madras (India) bahwa keberadaan Fort York tidak menguntungkan bagi Inggis dan posisinya kurang strategis. Setelah laporan tersebut, diputuskan EIC akan mendirikan bangunan benteng di lokasi lain, yang sebelumnya diusulkan Joseph Callet di wilayah ujung karang atau lokasi Benteng Malborough saat ini berdiri.

Pembangunan Benteng Malborough dimulai pada tahun 1713 Masehi, dan langsung dikomandoi Joseph Callet. Serangan wabah penyakit yang menimpa para pekerja termasuk para personel EIC, adanya serangan rakyat Bengkulu yang berhasil membakar seluruh komplek Benteng dan memaksa para penghuninya mengungsi ke Madras. Menjadikan pendirian benteng ini tak berjalan mulus, dan sempat terhenti selama beberapa tahun. 

EIC yang kembali pada 1724, kembali harus menghadapi serangan pribumi di tahun 1793 yang menewaskan Robert Hamilton, lalu tahun 1807 serangan rakyat Bengkulu menewaskan Residen Thomas Parr. Benteng Marlborough kemudian beralih ke tangan Hindia Belanda pada tahun 1825-1942, lalu Jepang antara 1942-1945.

Pada masa perang kemerdekaan, Benteng Marlborough kemudian menjadi markas Polri, namun di tahun 1949-1950 kembali diduduki Belanda melalui agresi militer, sebelum akhirnya kembali ke tangan Indonesia di tahun 1950. Saat itu Benteng Marlborugh sempat dijadikan markas TNI AD hingga 1977, sebelum akhirnya diserahkan ke Depdikbud untuk proses pemugaran sebagai bangunan cagar budaya.

Photo Bersama Sebelum Meninggalkan Lokasi

Bentuk Benteng jika dilihat dari atas akan terlihat berbentuk mirip seperti kura-kura. Pada bagian pintu masuk kedua persis sebelum halaman utama benteng ini, kita akan menemukan gerbang besi dengan desain khusus yang masih tetap kokoh terpasang sampai kini. Tak jauh dari akses gerbang masuk pertama dari bagian depan tepatnya di sisi sebelah kanan jalan masuk utama, terdapat 3 makam besar yang merupakan makam Robert Hamilton, Residen Thomas Parr serta Charles Murray. Pada bagian utama di halaman dalam Benteng, terdapat belasan meriam besi yang terususun rapi menghadap ke arah samudera, beberapa diantaranya ditempatkan di bagian sudut atas Benteng sebagaimana lokasi aslinya dulu. 

Terlihat deretan celah pintu dengan deretan besi-besi kokoh yang selintas mirip sel tahanan. Sementara sisi kiri, bangunan tampak lebih pendek dengan bagian sisi ujungnya terlihat hamparan laut samudera India. Bangunan ini merupakan bangunan inti benteng Marlborough, dulu EIC memusatkan seluruh aktivitas perdagangan maupun pemerintahannnya. Pada sisi ujung halaman, terdapat bangunan dengan desaian beratap genteng, yang juga merupakan bagian kantor dagang EIC.

Bagian dari benteng saat ini dibuat ruang audio visual yang disediakan BPCB Jambi, pengunjung dapat menyaksikan secara lengkap sejarah dalam bentuk video tentang keberadaan benteng maupun asal mula kedatangan Inggris ke Bengkulu. Pada bagian ruangan bangunan inilah, pengunjung bisa lebih lengkap mempelajari sejarah panjang pendirian bangunan, maupun sejarah lainnya yang lengkap. Pihak BPCB Jambi merenovasi salah satu ruangan di bangunan tersebut, menjadi ruang audio visual dengan tujuan untuk proses edukasi sejarah kepada para pengunjung agar lebih efektif dan efisien.

Selain ruang audio visual, pada bagian bangunan benteng lainnya terdapat dua ruang pamer utama, yang menyimpan dokumen-dokumen ringkasan terkait perjalanan panjang keberadaan Inggris di Bengkulu, termasuk diorama Presiden pertama RI, Soekarno yang digambarkan tengah berhadapan dengan Residen C.E Maier.

Baca Juga :
Rumah Bung Karno, bagian sejarah Bengkulu
Jejak Sejarah bung Karno Di Tanah Bengkulu

Untuk menyaksikan secara langsung kebenaran apa yang sudah dituliskan, pembaca bisa datang langsung untuk menyaksikan, menikmati dan mempelajari. Tak banyak peninggalan koloni Inggris saat menjajah Indonesia, karena memang saat itu yang lebih mendominasi adalah koloni Belanda, kecuali wilayah bagian timur dan Bengkulu tentunya.  

Acara ini terselenggara atas kerjasama dari BPCB Jambi dengan Komunitas Bengkulu Heritage, Himpunan Pramuwisata Bengkulu, Pemerintah Provinsi Bengkulu, Media Center Pemprov. Bengkulu dan Blogger Bengkulu.

"Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog dan #NulisSerempak Warisan Sejarah Budaya Bengkulu".

Media Center Pemprov Bengkulu 
Cagar Budaya Jambi
Blogger Bengkulu
#WarisanSejarahBudayaBengkulu
#BalaiPelestarianCagarBudayaJambi
Share on Google Plus

About Komando Badar TV

4 komentar:

  1. Nilai perjuangn di Fort Marlboroug mash terasa smpai saat ini y kak

    BalasHapus
  2. Bagus artikelnya, menambah wawasan tentang wisata sejarah Bengkulu

    BalasHapus
  3. aku suka ada dioramanya, kemarin aku sempat selfie di situ, mumpung ga ada yang lihat ehehheheee..habis dioramanya bagus

    BalasHapus
  4. wah sepertinya ada yg saya kenal hehe

    BalasHapus