"Kalau kau bukan anak raja, dan kau bukan anak seorang ulama besar, maka jadilah penulis" Al - Ghazali.

Sang Penjaga Waktu

Sang Penjaga Waktu

Oleh      : M. Faiz azzam
Kelas     : 7A
SMP IT IQRA' Bengkulu
Santri Rumah Tahfidz Bakti Ilaahi Bengkulu (RTBI).

Galih adalah seorang anak laki-laki yg dilahirkan dalam keluarga sederhana. Ia adalah anak pertama. Ayahnya berkerja sebagai tukang mebel dan ibunya seorang guru. Ayah dan ibunya selalu sibuk bekerja untuk memenuhi kebutuhan  keluarganya.
Saat ini, Galih duduk di bangku kelas 6 SD, galih merupakan anak yg terkenal di sekolah karena sifatnya yg nakal. Saat ini ia akan menghadapi ujian nasional (UN). Kesibukan kedua orang tuanya untuk mencari nafkah sehinga galih kurang dapat perhatian dari kedua orang tuanya, apalagi untuk mendapatkan motivasi dalam menghadapi ujian nasional (UN).
Seharusnya, saat ini Galih sudah harus memilih kemana ia akan melanjutkan sekolah akan  tetapi karena kedua org tuanya sangat sibuk. Sewaktu adzan magrib   berkumandang Galih bergegas ke masjid untuk melaksanakan sholat magrib bejamaah. Setelah para jamaah meningalkan masjid, Galih hanya duduk terdiam dan merenung. Ia di datangi oleh seorang ustad. Ustad pun duduk disamping Galih dan bertanya.
“Ada apa denganmu nak kenapa belum pulang?”
“Begini ustad, saat ini kan Galih sudah hampir tamat dari MTS. Galih bingung mau melanjutkan sekolah kemana, sedangkan kedua orang tua Galih belum ada waktu untuk di ajak bicara”. Jawab Galih pada ustad.
 “Kamu pandai mengaji nak?”,Ustad lanjut Bertanya
“Alhamdullilah cukup bisa ustad namun belum terlalu fasih, kenapa ustad?”. Jawab galih bingung.
“Kamu mau tidak jadi penghafal qur’an ? Kebetulan ustad dengar ada RUMAH TAHFIZD baru di buka”.
Galih bertanya dengan sedikit bingung “Penghafal al-Qur’an, emang Galih bisa?”
“Nak asalkan ada kemauuan pasti ada jalannya”. Jawab ustad, mencoba memotivasi.
“Baiklah ustad nanti Galih minta pendapat dengan kedua orang tua Galih dahulu”. Jawab Galih dengan bersemangat.

Ustad pun mempersilahkan dan mendukung keinginan Galih.
Hari sudah semakin larut setelah percakapan tersebut, Ustad lalu mempersilahkan Galih pulang.
Setiba dirumah, Galih mencari kedua orang tuanya. Namun ternyata kedua orang tuanya sudah tertidur karena kelelahan. Galih belum sempat untuk menanyakan kepada kedua orang tuanya. Galihpun berpikir unuk bangun lelih cepat agar bisa bertanya secepatnya kepada orang tuanya. Sesaat seblum orang tuanya berangkat untuk mecari nafkah.
Tibalah waktu dimana Galih harus sudah terbangun dari tidurnya, Galih pun menghampiri kedua orang tuanya. Ibunya sedang memasak didapur, sedangkan ayahnya sedang menikmati secangkir kopi. Galih pun  duduk di samping ayahnya dan membuka percakapan.
“Pak, buk Galih mau bicara, boleh?”, tanya Galih.
“Ya bolehlah nak, memang kamu mau bicara apa?”. Jawab ayahnya.
“Begini pak, galih mau jadi penghafal Qur’an ya, tingalnya dirumah tahfidz pak,” lanjut Galih.
“Kebetulan pak Ustad mau membantu proses pendaftarannya,”. Terang Galih melanjutkan.
“Kalau itu memang pilihanmu dan kamu sanggup menjalaninya, boleh saja.” Jawab ayahnya.
Siang harinya Galih pergi ke masjid untuk melaksanakan sholat dzuhur berjamaah sembari mencari ustad. Setelah selesai shalat Galih menghampiri ustad.
“Pak ustad?” panggil galih.
"Ya Galih, gimana keputusanya?” tanya ustad.
"Ya ustad galih mau, orang tua galih juga sudah setuju ustad". Galihpun menjawab dengan semangat.
"Alhamdulillah kalau begitu, nanti ustad tanyakan apa saja persyaratannya ya". Terang Ustad sembari tersenyum.
"Iya pak ustad galih tunggu kabar selanjutnya pak ustad, galih juga mau pamit pulang ustad". Kata galih sambil mencium tangan.
Setelah semua persyaratan sudah terkumpul dan kelulusan SD sudah selesai, galih berangkat ke Rumah Tahfidz Bakti Ilaahi. Ia pun merasa senang tinggal disana bersama temen-teman dan keluarga baru yang baik hati.
Saat malam itu, meraka di kumpulkan untuk mendengarkan sebuah nasehat penyemangat.
Ustad berceramah.
"Orang tua kalian sudah rela memasukan kalian di Rumah Tahfidz Bakti Ilaahi ini. Buatlah hadiah terbaik untuk orang tua kalian. Kalianlah generasi islami berikutnya, kalian lah para penjaga wahyu Allah. Karna itu kalian harus siap untuk menghafal, membaca dan murojaah hafalan sampai 30 juz, SIAP UNTUK MENGHAFAL  30 JUZ".
"Siap ustad". Teriakan calon santri Rumah Tahfidz Bakti Ilaahi.
Keesokan harinya para santri Rumah Tahfidz Bakti Ilaahi melaksanakan program menghafal al-Qur'an. Galih sangat fokus berinteraksi dengan al-Qur'an sedangkan yg lainnya bermain main. Namun galih tidak mau membuang buang waktunya. Sepanjang hari sepanjang malam dia terus menghafal dia tak perduli kalau tidurnya sedikit, ia asyik dengan al-Qur'an.
Ketika asyik dengan al-Qur'an tiba-tiba ia mersa kesusahan untuk menghafal 1 halaman ia merasa heran.
"Mengapa halaman ini susah sekali dihafalkan ya". Batin galih.
Iapun bertanya pada ustad. "Ustad mengapa galih susah menghafal 1 halaman ini tad ?? "
"Ingat galih satu huruf itu mengandung 10 kebaikan, jadi kalau galih selalu mengulang halaman itu pasti akan dapat pahala yang berlimpah. Bisa juga ini ujian untuk galih, mungkin karena galih terlalu santai untuk menghafal jadi galih harus semangat bukannya santai santai," Jawab Ustad sembari memberi semangat.
Galih pun tersadar, esoknya semangat galih pun naik lagi dia menghafal dengan giat walaupun susah. Galih tahu bahwa nilai pahalanya sangat besar. Ketika sedang mengafal galih berhadapan dengan tantangan yang lebih besar dari pada hanya susah ngafal, yaitu sifat malas. Namun dengan usaha yang besar, serta selalu melaksanakan saran dan nasihat dari Ustad akhirnya galihpun dapat mengatasi masalah-masalah tersebut.
Hafalnnya pun semakin bertambah seiring pergantian hari, sehingga galih menjadi orang pertama yang hafidz 30 juz di Rumah Tahfidz Bakti Ilaahi.


***Tamat***
Share on Google Plus

About Zefpron Saputra

0 komentar:

Posting Komentar