"Kalau kau bukan anak raja, dan kau bukan anak seorang ulama besar, maka jadilah penulis" Al - Ghazali.

Kado Toga Untuk Ayah Di Surga ®

KADO TOGA UNTUK AYAH DI SURGA

Gambar : Ilustrasi Penulis

Assalamu'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuhu. 
            Dari setitik harapan seseorang bisa mewujudkan mimpinya menjadi sesuatu yang berharga. Sebuah asa untuk menggapai cita dan kehidupan yang lebih baik. Disaat hidup terperangkap dengan masalah, disaat kaki ini begitu sulit untuk melangkah kedepan, disaat suara hatimu menjerit dan tak ada seorangpun yang tahu apa yang tersirat di pikiranmu. Saat itulah diri ini dilatih untuk menjadi seseorang yang mengerti akan dirinya sendiri. Setiap manusia memiliki jalan hidup yang berbeda-beda terkadang penuh dengan lika-liku hidup, tak jarang ada yang harus melewati kerikil-kerikil tajam yang melintang. Namun ada juga yang menjalani hidupnya dengan mulus-mulus saja. Yakinlah kalian yang memiliki jalan hidup dengan penuh tantangan akan menjadi sesosok pribadi yang sukses dimasa depan. Asalkan selalu ada keyakinan di hatimu akan harapan yang gemilang untuk mewujudkannya.
“Chi”, itulah sebutan nama yang melekat di dirinya. Seorang mahasiswi yang berhasil menyelesaikan bangku kuliah S1 dengan penuh perjuangan dan tangisan air mata.
            Ayahnya meninggal saat ia duduk dibangku SD kelas 4. Seorang anak SD sangat membutuhkan kasih sayang dan perhatian dari kedua orang tuanya. Bahkan sekarang ibunya harus banting tulang bekerja untuk menghidupi mereka. Sepeninggalan ayahnya, chi selalu murung dan menangis. Ia merasa hidup ini sangatlah kejam tapi ibu dan kedua kakaknya selalu memberikan semangat dan menghiburnya.
            Tak terasa dua tahun telah berlalu, sekarang chi telah duduk di bangku SMP. Layaknya anak SMP ia melewati masa pubertas. Setiap sore ia selalu menghabiskan waktu dengan teman-temannya. Waktu yang terbuang sia-sia membuat ia tidak pernah membantu ibunya membersihkan rumah, bahkan ia tidak pernah lagi belajar hingga suatu saat ia mendapatkan rapor merah. Saat itu ibunya sangat kecewa.
 “Chi, kenapa nilai matematika kamu merah ?, kata ibunya.
“Hm…, maaf bu”, Chi menjawab singkat lalu terdiam dan rasa takut menjalar disekujur tubuhnya.
Ibunya langsung terdiam dan menangis.
“Ibu bekerja banting tulang untuk sekolahmu, ingat kamu sudah tidak punya ayah lagi, jangan di turut cara hidup teman-temanmu”, kata ibunya sambil mengelus dada.
“Ia bu, aku janji akan berubah”, dengan tegas dan yakin.
Setelah duduk di kelas dua SMP akhirnya Chi membuktikan janjinya dengan ibunya, keyakinan dan semangat menuntutnya menjadi seseorang yang lebih baik. Ia menjadi juara kelas dan mendapat tawaran menjadi guru les di sebuah bimbingan belajar di daerahnya. Meskipun ia masih duduk di bangku SMP, darah guru dari ayahnya mengalir dalam urat nadi dirinya. Pendapatan perbulan dari mengajar ditabung untuk biaya keperluan sekolah.
            Beberapa tahun telah berlalu, tak terasa sekarang ia telah duduk di SMA. Namun ia harus melewati sebuah ujian lagi, kakanya yang bernama har mengalami depresi. Ketidakmampuan menerima perubahan hidup yang harus serba hemat, mandiri dan tanpa ada peran seorang ayah membuat kakaknya mengalami gangguan jiwa. Setiap malam ketika adzan maghrib tiba kakaknya selalu membanting barang-barang di rumah, bahkan ia pernah memukul ibunya. Akibat dari gangguan jiwa membuat emosinya tidak stabil dan tak sadar bahwa ia telah menyakiti ibunya sendiri.
            Suatu hari ketika Chi dan ibunya baru selesai shalat maghrib tiba-tiba kakaknya mengambil minyak tanah yang ada didalam kompor dan membakar kain sehingga api hampir membakar isi dapur. Ibunya langsung menyiram dengan air sehingga apipun cepat padam namun kakaknya tetap saja mengomel dan marah-marah sambil mendorong ibunya, ketidakstabilan jiwa kakaknya membuat Chi dan ibunya harus pergi dari rumah, karena takut hal buruk terjadi kepada mereka. Tanpa alas kaki dan sambil menangis chi dan ibunya menyelusuri jalan menuju rumah neneknya.
            Setelah hasil musyawarah keluarga akhirnya kakak Chi di masukkan kerumah sakit jiwa di kota. Jarak daerah tempat Chi tinggal ke rumah sakit jiwa kurang lebih dua jam. Ibunya harus menemani kakaknya karena ibunya tidak tega meninggalkan kakanya sendiri.
            Padahal saat itu Chi terpilih menjadi wakil dari sekolah untuk mengikuti lomba nasional di Jakarta “Lomba Cerdas Cermat Undang-undang Dasar dan Ketetapan MPR Se-Indonesia”. Meskipun seluruh biaya telah di tanggung pihak sekolah dan pemerintah setidaknya ia harus memiliki pegangan uang saku. Namun Chi melihat ibunya sedang tidak memiliki uang, karena biaya rumah sakit kakaknya sangatlah mahal. Dalam do’a ia berkata,
“Ya robbi, dengan terpilihnya aku ke ajang nasional adalah seberkas kebahagiaan di senyum ibuku, meskipun tak sepersenpun uang yang kupegang namun ku yakin kau kan memberi jalan untukku”.
Di coretan diarinya Chi menulis sebuah puisi
            Aku ingin terbang seperti elang
            Gagah berani…,
            Melangkahkan mimpi, menggapai prestasi
            Mengubah diri lebih baik
            Namun sayapku patah terhempas badai
            Sehingga aku tertatih dan jatuh lagi
Namun ibu selalu menguatkanku
Terus semangat dan maju.
Bagi Chi senyum dan kebahagiaan  ibunya adalah semangat untuknya semakin maju. Dengan terpilihnya Chi ke ajang nasional memberikan secercah kebahagiaan ditengah beratnya ujian hidup yang harus dilalui ibunya. Itulah hidup yang penuh cerita yang terkadang jika seseorang lemah akan menjadi terpuruk bahkan berpikir tak ada lagi jalan keluar, dan jangan sekali-kali menghentikan langkahmu karena ketika kau berhenti semua harapanmu akan sirna. Jalan akan terbuka jikalah seseorang selalu mengejar dan fokus dari harapannya. Dengan membuka fikiran bahwa dihadapanmu terbuka sebuah gerbang menuju impianmu. Yakinlah dan selalu meminta do’a restu dari ibu dan ayahmu.
Akhirnya Chi telah menyelesaikan bangku SMA. Teman-temannya banyak melanjutkan ke bangku kuliah.
“Mungkinkah aku bisa merasakan bangku kuliah, biaya darimana ?” bertanya di dalam hatinya.
Tiba-tiba seorang temannya menyapa, “Chi, kamu tidak ikut beasiswa bidikmisi ?” ucap Tria.
“Iya Chi, itu beasiswa untuk siswa tidak mampu yang berprestasi, syaratnya mengumpulkan seluruh piagam-piagam lomba”. Ujar Irma.
Dengan senyum bahagia Chi lega bahwa ada harapan untuk melanjutkan kuliah.
            Hari pengumuman bidikmisipun tiba, dengan rasa bahagia namanya ada di daftar bidikmisi. Tapi ketika Chi melanjutkan bacaannya ke bawah tertulis “siswa diatas lulus menerima beasiswa bidikmisi selama kuliah, namun siswa tersebut harus lulus SMPTN atau terdaftar lulus PPA”. Perasaan bahagia itupun gugur, karena kurangnya informasi di sekolah  Chi tidak mengikuti PPA, padahal jika ia mendaftar kemungkinan besar ia lulus seleksi. Namun masih ada satu kesempatan lagi yaitu mengikuti SMPTN.
            Ketika pengumuman itu tiba ternyata ia tidak lulus SMPTN dan beasiswa harus hilang. Kesedihanpun dirasakan oleh Chi. Kesempatannya untuk melanjutkan kuliah sirna. Hidup itu seperti roda yang berputar dan seperti ombak di lautan terkadang roda berputar di bawah dan terkadang diatas. Begitupun dengan ombak ada pasang ada surut, hidup akan terus berjalan seperti air yang mengalir. Tetapi hidup akan menjadi bermakna ketika kesabaran selalu tumbuh di dalam hati, jangan pernah ada kata “Menyerah” meskipun berkali-kali gagal. Biarlah langit kelam tak berawan menutup jalan kesuksesan tapi cahaya hati dapat menembus kegelapan dengan kesabaran dan pantang menyerah. Kesungguhan dan keyakinan yang besar akan membawa seseorang ke gerbang kesuksesan, karena motivasi akan menciptakan sebuah energi.
            Akhirnya ibu memutuskan untuk mendaftarkan Chi di perguruan tinggi swasta di kota. “Bu, aku tidak usah kuliah dulu. Biaya kuliah di swasta sangat mahal nanti aku takut berhenti di tengah jalan”. Ucap Chi.
“Kuliahlah nak, rezeki itu telah ditentukan oleh Allah, asalkan kita yakin maka ada jalan”. Dengan keyakinan ibunya berkata.
Terkadang terbesit di pikiran chi untuk menghentikan langkahnya. Kegundahan datang ia takut mimpinya akan terhenti. Ia berfikir bahwa pemikiran terkadang tak sesuai dengan harapan. Menghentikan sebuah pengharapan akan suatu kesuksesan cita-cita adalah hal tersulit dan berat. Perjalanan Chi pun berlanjut di bangku kuliah. Hari-hari yang ia lalui terasa berat. Biaya obat kakaknya yang tak kunjung sembuh, kebutuhan hidup sehari-hari mungkinkah ibunya dapat membiayai kuliahnya hingga selesai. Chi pun menggoreskan sebuah tulisan di diarinya.
            Aku mencoba menyongsong sang mentari
            Merenung di tengah pengharapan
            Bertanya pada keadaan, mencoba terus melangkah di tengah kegundahan mimpi.
            Lanjut atau terhentikah ?
            Jika lanjut, apa yang akan terjadi harus kuhadapi.
Jikalah di tengah perjalanan nanti aku berhenti berarti aku lemah dan takut untuk bermimpi.
Sekarang, aku harus kibarkan tekad maju, kibarkan semangat pantang menyerah. Berjaya tuk sebuah mimpi.
Haripun terus berjalan hingga ujian semester genappun tiba. Saat itu Chi harus membayar uang semesteran jika mau ikut ujian. Namun keadaanpun menyulitkan Chi, masalah keuangan menjadi penghalang bagi Chi. Jika Chi tidak membayar uang semester maka Chi bukan hanya tidak dapat ikut ujian bahkan Chi harus Stop Out (SO). Keadaan keuangan keluarganya sedang sulit, sehingga tidak memungkinkan Chi untuk meminta kepada ibunya. Keadaan ini membuat Chi bingung dan tidak tahu apa yang ingin ia lakukan.
Banyak hal yang telah ia lewati akan tetapi Chi selalu tersenyum menjalani semuanya. Dari hal tersulit hingga ia merasakan begitu sulit memecahkan sebuah masalah. Hingga suatu saat ia tak mampu menjalaninya. Rasa gundah menyelimuti relung kalbunya, terbesit ingin cerita kepada sahabat yang ada disampingnya namun sulit rasanya untuk bercerita.
Chi berkata di dalam hatinya “Benarkah kedewasaan itu akan tercipta ketika begitu banyak masalah dihadapi ?, aku tak sanggup melihat air mata jatuh di pipi ibuku jika aku berhenti kuliah. Namun jika aku lanjut aku sedih melihat ibuku harus banting tulang”.
Chi ingin sekali meringankan beban ibunya dengan mencari pekerjaan. Jika ia harus berhenti kuliah itu adalah hal terberat bagi Chi. Difikirannya selalu terlintas kuliah akan menyebabkan krisis keuangan dikeluarganya. Karena kuliah Chi membuat beban biaya bagi ibunya. Suatu saat ketika Chi bercerita kepada ibunya masalah uang semester keluarganya seakan melihatnya dengan sorotan yang tajam.
“Kalau tidak ada uang tidak usah kuliah”, kata pamannya.
“Sabar nak, semoga nanti ada rezeki”. Kata ibunya.
Chi merasa dirinya tidak berguna , semestinya ia bisa lebih mandiri kuliah sambil bekerja sehingga ia tidak merepotkan ibunya.
“Jika aku berhenti berarti aku harus mengubur mimpi, visi dan misiku”. Bergumam dalam hati.
Akhirnya Chi mendapatkan solusi, tidak ada cara lain dengan meminjamuang kepada temannya. Chipun menghubungi kakak tingkatnya.
“Kak, boleh tidak Chi minta tolong ?”. kata Cahi kepada Yulian.
Dengan senyum kakak tingkat itupun menjawab, “Tentu saja, insyaAllah jika kakak bisa menolong pasti dengan senang hati kakak pasti membantu”.
Perasaan yang gugup tidak menghentikan langkah Chi  untuk bercerita, “Kak dua hari lagiuang semester kuliah harus di lunas, sedangkan tak ada sepersenpun uang yang Chi simpan. Jika tidak Chi tidak bisa ikut ujian dan di SO. Dimana Chi harus pinjam uanga sebanyak itu dalam waktu dua hari kak ?” kata Chi.
Yulian pun menjawab, Kakak hanya bisa membantu sedikit karena tidak ada kalau sebanyak itu. Tapi jangan kwatir coba kamu hubungi kak rio, kak rony, kaka fahmi pasti mereka bantu”.
Chi pun lega akan saran dan bantuan yang diberikan kak Yulian. Ia pun segera menghubungi kak Rio, kak Rony dan kak Fahmi. Akhirnya dengan bantuan mereka uang itupun terkumpul. Solidaritas dari teman-teman Chi meringankan langkah Chi untuk melanjutkan kuliahnya.
“Terima kasih kak Rio, kak Rony, kak Yulian, kak Fahmi. Kalian sangat berjasa membantuku saat biaya kuliahku telah di ujung tanduk”. Chi berkata dalam hati sambil meneteskan air mata.
Perjalanan hidup adalah rangkaian cerita. Ketika kau merasa hampa dekatkanlah dirimu pada-Nya. Kehampaan itu akan terisi menjadi suatu yang berharga dalam hidupmu. Berhenti hanya mengeluh. Tatap semua langkahmu dengan penuh pengharapan dan yakinlah kau mampu dan bisa.
Tahun 2014 akhirnya Chi menuntaskan kuliah yang dijalaninya, banyak pengalaman yang telah ia lalui dan dapatkan. Banyak kisah telah terukir dalam catatan sejarah hidupnya. Sekarang ia telah menjadi seorang guru. Seperti yang telah ia Cita-citakan sejak kecil. Bahkan baru-baru ini ia mendapatkan beasiswa spesialisasi guru di universitas negeri yang cukup terkenal di Bengkulu. Walaupun cita-cita besar lainnya harus di tunda dahulu selama satu tahun, namun tekad yang bulat dapat meyakinkan dirinya. Ia menananmkan didalam dirinya bahwa segala sesuatu haruslah diperjuangkan. Kehidupan telah mengajarkan dirinya bahwa sesuatu yang sangat tidak mungkin dapat diraih jika di usahakan dengan bersungguh-sungguh serta selalu berdo'a akan membuahkan hasil yang memuaskan.
  • Diangkat dari kisah nyata dan dituturkan langsung oleh orang yang menjalaninya
  • Mohon maaf jika ada kesamaan nama, lokasi maupun kejadian yang menjadi rangkaian kisah ini
  • Semoga menginspirasi
Baca Juga :
Share on Google Plus

About Zefpron Saputra

7 komentar:

  1. مَنْ جَدّ وَ جَدًّ
    Mimpi insyaAllah pasti bisa diwujudkan

    BalasHapus
  2. Man Jadda wa Jadda
    InsyaAllah semua mimpi akan terwujudkan

    BalasHapus
  3. Semangat saya ngejar S2 juga ini

    BalasHapus
  4. subhanallah. Semoga selalu ada jalan

    BalasHapus
  5. Cerita yang menginspirasi banget mas.

    BalasHapus