"Kalau kau bukan anak raja, dan kau bukan anak seorang ulama besar, maka jadilah penulis" Al - Ghazali.

Alat Musik Tradisional dari Bengkulu, DOL

Alat Musik Tradisional dari Bengkulu, DOL

Sambutan atraksi Dol di jembatan Benteng Malabrough
Mendengar nama Bengkulu tentu semua akan langsung terbayang dengan Bunga Raflesia, Benteng terbesar peninggalan Inggri (Benteng Malabrogh), Rmah Bung Karno, Acara Tabot. Dari semua itu saya tidak akan membahas semuanya, namun hanya akan mengupas tentang Tabot. Didalam acara Tabot terdapat banyak rangkaian acara, namun saya hanya akan mengupas tentang alat musiknya yaitu Dol. Zaman dulu, dol hanya dimainkan saat perayaan Tabot, yang jatuh pada tanggal 1-10 bulan Muharram.

Sekilas dol memiliki bentuk seperti beduk. Dengan setengah bulat lonjong dan memiliki hiasan ornamen warna-warni. Bahan pembuatan Dol adalah dari kayu atau bonggol kelapa. Yang terkenal ringan namun kuat. Kadang Dol juga terbuat dari kayu pohon nangka. Proses pembuatan Dol adalah Bonggol pohon kelapa dilubangi bagian atasnya lalu ditutup kulit sapi atau kulit kambing. Diameter dol terbesar bisa mencapai 70-125 cm dengan tinggi 80 cm dan alat pemukulnya berdiameter 5 cm dan panjangnya 30 cm.

Dol diperkenalkan kali pertama oleh masyarakat Muslim India yang datang ke Indonesia. Yang dibawa oleh Pemerintah kolonial Inggris yang saat itu akan membangun Benteng Malborough. Karena lama tinggal di Bengkulu mereka kemudian menikah dengan orang lokal Bengkulu dan garis keturunannya dikenal sebagai keluarga tabot. Hingga tahun 1970-an, musik dol hanya boleh dimainkan orang-orang yang memiliki hubungan darah dengan keluarga tabot tersebut.

Dalam menabuh DOl terdapat nada hentakan irama ritmis. Dengan tabuhan alat musik ini tentu mampu memberikan kemeriahan tersendiri. Semangat tabuhan dari alat musik yang satu ini biasanya membuat setiap pertunjukan menjadi hidup dan semangat. Gendang khas asal Bengkulu dan biasanya dimainkan beramai-ramai.

Dol dimainkan dengan cara dipukul, ada 3 teknik dasar memainkan dol, yaitu :
1. Suwena, tamatam, dan suwari. Jenis pukulan suwena biasanya untuk suasana berduka cita dengan tempo pukulan lambat;
2. Tamatam untuk suasana riang, konstan dan ritmenya cepat; dan
3. Suwari adalah pukulan untuk perjalanan panjang dengan tempo pukulan satu-satu.







Dalam pementasan dol, ada intsrumen lain yang ikut mengiringi, seperti tassa (sejenis rebana yang dipukul dengan rotan), dol berukuran kecil, serunai, dan lainnya. Seiring perkembangan, dol mulai banyak dimainkan di berbagai acara khusus. Seniman-seniman di Bengkulu belakangan juga giat mengenalkan dol ke tengah-tengah masyarakat umum. Bagi yang tertarik memiliki dol, alat musik yang biasanya identik dicat dengan warna-warna cerah ini biasanya dijual dengan harga antara Rp850.000,- hingga jutaan rupiah tergantung besar kecilnya ukuran Dol.
Share on Google Plus

About Zefpron Saputra

3 komentar:

  1. Wah dari India toh asal muasalnya, jauh nehan hahaha

    BalasHapus
  2. Ciri khasnya sangat identik dengan bedug. Keren!

    BalasHapus
  3. Terimakasih, artikelnya sangat bermanfaat sekali.
    jangan lupa untuk mengunjungi kami di Toko Alat Drumband Batam

    BalasHapus