"Kalau kau bukan anak raja, dan kau bukan anak seorang ulama besar, maka jadilah penulis" Al - Ghazali.

ISTRI HAFIDZHAH ADALAH WANITA LANGKA SAAT INI, BERLOMBA – LOMBALAH MENCARINYA

ISTRI HAFIDZHAH ADALAH WANITA LANGKA SAAT INI, BERLOMBA – LOMBALAH MENCARINYA

Istri-Istri Hafidzah

Akibat dari penerapan konsep pendidikan wanita yang salah, barangkali salah satunya jorgan emansipasi yang melampaui batas fitrah kewanitaan yang sudah digariskan oleh syariat. Pendidikan wanita saat ini sudah mengalami pergeseran yang amat jauh sekali dari nilai-nilai Islam, yang berakibat pada pergeseran cara pandang terhadap wanita. Konsep Pendidikan yang sudah meninggal al-Qur'an menjadikan wanita kehilangan arah dan fitrahnya.

Istilah “wonder woman/wanita super” sudah menjadi biasa bagi kita saat ini, karena sistem pendidikan kita lebih mengedepankan para wanita menjadi wanita karier, yang terkadang banyak menggeser peran yang seharusnya dipegang oleh para pria. Inilah perwajahan dunia pendidikan kita saat ini yang pada ujungnya adalah pekerjaan semata. Sehingga wajarlah manakala kita melihat para orang tua saat ini akan menuntut banyak hal dari anaknya yang telah selesai studinya dengan bekerja semata, walaupun dengan pekerjaan yang tidak sesuai fitrahnya.

Ini adalah Fakta yang menjadi sebab karena meninggalkan nilai-nilai Islam. Belum lagi jika kita kaitkan dengan kesiapan wanita saat ini memasuki gerbang rumah tangga, bisa kita katakan sangat minim sekali dari sisi bekal ilmu tentang Al-Qur’an.

Orang tua yang tidak peduli dengan pendidikan dan ilmu al-Qur'an menyebabkan generasi Islam sangat minim sekali, bahkan tak jarang tidak punya bekal sama sekali. Begitu pula saat mengenyam pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi, tidak pernah ditanamkan tentang nilai – nilai Islam, maka dia akan tumbuh sebagai sosok wanita yang tidak paham dengan agamanya sendiri.

Dari Fakta tersebut menjadikan seorang hafizhah saat ini sangat langka mengingat untuk menyelesaikan dan punya kemampuan menghafal Al – Qur’an membutuhkan banyak pengorbanan dan perlu kesabaran. Ditambah lagi minat para wanita saat ini untuk menghafal al-Qur’an sangat kurang, karena memang tidak banyak keuntungan di dunia yang didapatkan kecuali mengharap ridlo Allah SWT semata. Bahkan dalam melihat keutamaan serta kemuliaan para penghafal Qur’an ini Imam Bukhori menyendirikan dalam kitab shohihnya bab hadits tentang kedudukan pembawa al-Qur’an dengan judul : Bab iri terhadap Shohibul Qur’an. Beliau meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud ra berkata : Aku mendengar Rosulullah saw bersabda :”

“Tidak ada iri kecuali kepada dua golongan : laki – laki yang diberi Allah tentang Al – Qur’an dan mengamalkannya sepanjang malam dan laki – laki yang diberi harta oleh Allah dia bershodaqah siang dan malam” (HR. Bukhari)

Ibnu Hajar menjelaskan dalam syarahnya tentang hadits tersebut maksud Bukhori mengemukakan hadits tersebut dengan judul : Iri kepada Shohibul Qur’an, Beliau berkata sesungguhnya maksud Bukhari adalah bahwa hadits ini menunjukkan selain Shohibul Qur’an dibolehkan iri kepada Shohibul Qur’an karena mengamalkan al-Qur’an yang diberikan Allah kepadanya, maka shahibul Qur’an lebih layak untuk iri ( bahagia ) dengan amalan yang ia lakukan.

Al Imam Ibnu Katsir berkata : “Kandungan hadits ini menunjukkan bahwa Shohibul Qur’an itu di-iri-kan ( oleh orang lain ), ini keadaan yang baik. Hendaknya rasa iri yang sangat itu disebabkan karena posisi itu dan disunnahkan rasa iri padanya karena hal tersebut artinya terobsesi seperti nikmat orang tersebut, hal ini berbeda dengan hasad yang tercela yaitu terobsesi agar nikmat orang yang di-iri-kan itu hilang .”

Dapat disimpulkan diperbolehkan iri bahkan hal ini merupakan sunnah terhadap sosok seorang penjaga Qur’an, karena banyaknya keutamaan serta hikmah yang bisa kita peroleh dari kehidupan para penghafal Qur’an.

Keistimewaan jika memiliki pendamping hidup seorang hafidzhah diantaranya :
1. Jika kita selaku suami masih memmiliki ilmu tentang al-Qur’an yang sangat minim, maka kita dapat belajar banyak dengan istri kita yang hafidzah. Kita tidak boleh malu untuk belajar pada istri kita, kalau memang pada kenyataannya kita tidak mampu. Jika hal ini kita upayakan (dengan belajar) tentu kita akan mendapatkan manfaat yang banyak dari istri kita yang hafidzah.

2. Bekal ilmu tentang al-Qur’an setidaknya sudah dimiliki walaupun masih sangat minim sekali dan masih perlu ditingkatkan. Bekal ini nantinya akan sangat bermanfaat sekali untuk membekali prinsip dasar dan ilmu tentang al-Qur’an pada anak kita nanti. Misalnya membaca al-Qur’an dengan fasih dan benar serta mampu menghafal beberapa juz al-Qur’an dengan lancar. Tentu sebuah kebahagian jika seandainya anak kita nanti yang masih balita sudah mampu membaca al-Qur’an dan hafal beberapa juz al-Qur’an karena tidak lain ibunya sendiri seorang hafidzah. Dan tentu saja penanaman pada seorang anak untuk mencintai al-Qur’an sudah ditanamkan sejak dalam kandungan oleh seorang ibu yang hafidzah.

Kita tentu dapat mengamati seorang ibu yang sedang mengandung anaknya kemudian aktivitasnya senantiasa mengulang, menyimak dan menghafal al-Qur’an, maka anak yang akan dilahirkan pun akan sangat berbeda dengan seorang ibu yang mengandung anaknya, sedangkan dia tidak pernah bahkan jarang menyentuh al-Qur’an, Insya’ Allah anak yang lahir dari rahim seorang hafidzhah akan menjadi anak yang sholeh atau shalehah dan hafidz, Aamiin.

Jika bekal ilmu tentang al-Qur’an sudah didapatkan, Insya’Allah bekal yang lain untuk menjadi seorang ibu yang pandai mendidik anak dan melayani suami sesuatu hal yang mudah didapatkan, tetapi dengan syarat kita harus punya persepsi yang sama dengan istri kita, bahwa kehidupan rumah tangga bukanlah akhir untuk mengapai cita dan harapan. Maknanya bahwa ketika berumah tangga kita harus berupaya untuk terus belajar dan mengembangkan potensi diri, baik dari sisi suami maupun istri kita sesuai dengan kemampuan dan kesanggupan. Tetapi kalau kita cukup puas dengan apa yang ada dan rumah tangga merupakan akhir segalanya, maka kita akan menjadi orang yang tertinggal.

Dua hal tersebut sudah dapat menjadikan gamabaran keutamaan memiliki istri yang Hafidzah.

Jika kita sudah berpasangan dengan yang belum hafidzah, maka usaha terbaik dengan bersama-sama agar dapat menjadi seorang hafidz tentu akan menjadikan keluarga yang sudah dibina, akan dibina menjadi lebih mesra, karena keseharian yang tidak terlepas dari al-Qur'an. Semoga bermanfaat.
Share on Google Plus

About Zefpron Saputra

3 komentar:

  1. dudududu,, jangan sibuk mencari atuh kak. Lebih baik memperbaiki diri dulu, InsyaAllah jika diri udh bener dan baik nanti di kasih istri yg sholeha.

    BalasHapus
  2. hemmm kayaknya buat para bujangers bujangers cucok ini mas bro hehehe, mangat..... hehehe

    BalasHapus